Mata Pelajaran Sekolah Kamu

Daftar Peninggalan Candi Hindu Budha di Indonesia Beserta Penjelasan lengkap

Candi Peninggalan Agama Hindu


1.  Candi Prambanan 

merupakan candi hindu yang cukup terkenal baik di dalam negeri maupun luar negeri. Bisa dikatakan bahwa Candi Prambanan merupakan candi hindu terbesar di Asia Tenggara. Candi peninggalan kerajaan Mataram Hindu ini berada di Prambanan, Yogyakarta. Menurut penelitian dari ahli sejarah dan arkeolog, Candi Prambanan dibangun sekitar abad ke-9 masehi.
Fungsi utamanya seperti tempat pemujaan terhadap dewa Siwa. Informasi tersebut di dapat dari prasasti Siwagraha dalam bahasa sansekerta yang artinya “rumah Siwa”. Selain itu, di bagian Garbagraha atau bagian utama candi terdapat patung Siwa Mahadewa setinggi 3 meter.
Candi prambanan juga memiliki kisah legenda yang cukup terkenal, yakni Roro Jonggrang. Kisah tersebut bercerita tentang bandung Bondowoso yang berniat mempersunting Roro Jonggrang. Lamaran tersebut ditolak Roro Jonggrang dengan halus, caranya dengan meminta syarat yang berat, sehingga dia tidak bisa diperisteri Bandung Bondowoso. Roro Jonggrang meminta dibangunkan 1000 candi dalam semalam, dan Bandung Bondowoso menyanggupinya.
Seluruh kesaktiannya dikerahkan, sehingga 1000 candi hampir selesai sebelum fajar. Tetapi Roro Jonggrang menggunakan akalnya untuk membuat suasana seperti fajar. Lamaran tersebut batal, karena saking marahnya, Bandung Bondowoso mengutuk Roro Jonggrang menjadi bagian dari Candi Prambanan. Ada yang menyebutkan bahwa patung Dewi Dhurga yang ada di Candi Prambanan merupakan perwujudan dari Roro Jonggrang. Itulah sebabnya, Candi Prambanan Juga dikenal seperti Candi Roro Jonggrang.


2. Candi Cetho – Karanganyar, Jawa Tengah

Candi Cetho merupakan candi hindu yang berad di Karanganyar, Jawa Tengah. Lokasinya tepat berada di bagian barat pegunungan Lawu 1400 meter dari permukaan laut. Candi hindu ini dibangun sekitar abad ke-15 masehi atau pada saat zaman Majapahit akhir. Pada awalnya candi ini terkubur diantara tanah dan reruntuhan. Maka dilakukanlah upaya penggalian dan rekonstruksi terhadap Candi Cetho.
Program tersebut pertama kali dimulai pada tahun 1928, dimana proses penggalian dan rekonstruksi dilakukan oleh pemerintah Hindia Belanda melalui Dinas Purbakala Hindia Belanda. Hal tersebut tertuang dalam tulisan Van de Vlies ada tahun 1842 dan dipertegas oleh penelitian A.J. Bernet Kempers. Setelah proses penggalian dan rekonstruksi, ditemukan beberapa fakta menarik tentang Candi Cetho.
Pertama, usia Candi Cetho hampir sama denga usia dari Candi Sukuh yang brada di dusun Cetho, desa Gumeng, Karanganyar. Kedua, Candi Cetho dibangun dengan konsep candi berundak yang terdiri dari 9 undakan. Ketiga, candi ini memiliki gapura berjenis gapura bentar diantara jalan masuk candi, disana juga terdapat sepasang arca penjaga di kanan kiri. Keempat, terdapat dua aras/halaman candi, dimana aras pertama berfungsi untuk pelataran candi dan aras kedua merupakan tempat petilasan leluhur masyarakat Cetho, yakni Ki Ageng Krincingwesi.

3.      Candi Sukuh – Karanganyar, Jawa Tengah


Candi Sukuh letaknya tidak jauh dari lokasi berdirinya Candi Cetho. Karena lokasinya masih berada di dusun Cetho, desa Gumeng, Karanganyar. Ara eneliti dan arkeolog seakat bahwa Candi Sukuh juga merupakan candi peninggalan hindu di Indonesia. Salah satu ciri yang bisa membuktikannya merupakan adanya tempat pemujaan berupa Lingga dan Yoni. Menurut para ahli, keduanya mempunyai simbol yang mengarah pada simbol-simbol seksualitas.
Selain dari itu, berdasarkan penelitian, ditemukan beberapa fakta tentang Candi Sukuh. Pertama, candi ini merupakan candi terkecil di Jwa Tengah. Ukuran luas kompleksnya juga tergolong sempit dan bentuk candinya kecil. Kedua, bentuk dan arsitekturnya sederhana dengan model bangunan yang cenderung lebih mirip dengan kuil suku maya di Meksiko, suku inca di Peru dan piramida di mesir. Sehingga Candi sukuh termasuk dalam candi hindu di indonesia yang mempunyai arsitektur unik.

4.      Candi Dieng – Wonosobo, Jawa Tengah



Candi Dieng juga termasuk candi hindu yang berada di daerah dataran tinggi. Candi ini berada di derah dataran tinggi Dieng, Jawa Tengah. Menurut enelitian, Candi dieng dibangun ada masa kerajaan Mataram Hindu dengan ciri terdapat arca Dewa Siwa, Dewa Wisnu, Agatsya dan juga Ganesha. Dieng sendiri diambil dari bahasa sansekerta yaitu “Dihyang” yang artinya merupakan tempat arwah para leluhur.
Dalam area candi Dieng, terdapat beberapa kompleks candi. Salah satu keunikan dari kompleks-kompleks candi tersebut ada pada penamaannya. Nama-nama yang digunakan berasal dari nama tokoh-tokoh wayang purwa dalam cerita Mahabarata. Ada candi Arjuna, candi Gatotkaca, candi Dwarawati, candi Bima, candi Semar, candi Sembadra, candi Srikandi dan juga candi Puntadewa.

Nama tersebut merupakan nama pemberian masyrakat sekitar setelah candi tersebut tidak lagi digunakan untuk ritual keagamaan. Jadi tidak ada hubungannya dengan bentuk bangunan atau sejarah lainnya dibalik nama-nama tersebut. Hingga saat ini keadaan candi tersebut masih dalam kondisi baik dan beberapa kali masih digunakan seperti objek enelitian oleh sejarawan dan arkeolog.

5.      Candi Gedong Songo – Semarang, Jawa Tengah


Candi Gedong Songo terletak di desa Candi, kecamatan Ambarawa, Semarang, Jawa Tengah. Candi ini termasuk candi hindu yang dibangaun sekitar abad ke-9 masehi pada zaman Mataram Hindu, tepatnya pada periode Wangsa Sailendra. Candi Gedong Songo pertama kali ditemukan oleh thomas Stamford Raffles pada tahun 1840. Ketika itu ia sedang melakukan penelitian di gunung Ungaran, Ambarawa 1200 meter di atas permukaan laut. Hasilnya, di temukanlah kompleks Candi Gedong Songo dengan jumlah candi sebanyak 9 buah.
Sehingga penamaan Gedong Songo diambil dari jumlahnya tersebut. Gedong artinya bangunan dan Songo artinya sembilan, jadi Gedong Songo merupakan bangunan (candi) yang berjumlah sembilan. Tidak hanya itu saja, penelitian tersebut menghasilkan beberapa fakta menarik seputar candi hindu di Indonesia ini. Pertama, Candi Gedong Songo mempunyai banyak kesamaan dengan Candi Dieng di Wonosobo. Kedua, Candi Gedong Songo merupakan kompleks candi untuk pemujaan terhadap tiga dewa Hindu. Hal tersebut dapat dilihat dari aksen bangunan candi yang mengandung unsur pemujaan terhadap Brahma, Wisnu dan Siwa.

6.      Candi Penataran – Blitar, Jawa Timur


Candi Penataran termasuk salah satu candi hindu di Indonesia yang berada di Jawa Timur. Candi ini berada di desa Penataran, kecamatan Nglegok Blitar, tepatnya di daerah gunung Kelud 450 meter di atas permukaan laut. Candi Penataran merupakan candi hindu berjenis Siwaistik, atau candi pemujaan untuk dewa Siwa saja. Hal tersebut terlihat dari jenis arsitektur dan juga aksen yang terdapat pada beberapa bagian candi.
Selain itu ada beberapa fakta yang menarik dari Candi Penataran. Pertama, candi ini awalanya tidak bernama Candi Penataran, melainkan Candi Palah. Informasi tersebut didapat dari prasasti yang ada di bagian candi. Namun karena berada di desa Penataran, maka disebutlah seperti Candi Penataran. Kedua, candi Penataran merupakan kompleks candi terbesar dan termegah di Jawa Timur.
Berdasarkan prasasti yang sama, ditemukan juga satu fakta tentang usia Candi Penataran. Candi ini memiliki usia sekitar 1200 tahun. Artinya, Candi Penataran ini dibangun pada masa raja Srengga dari kerajaan Kediri. Bahkan pada masa raja Wirakramawardhana di era Majapahit sekitar 1415 masehi, candi ini masih dipergunakan untuk pemujaan terhadap Dewa Siwa.

7.      Candi Kidal – Malang, Jawa Timur

Candi Hindu di Indonesia - Candi Kidal


Candi Kidal merupakan candi hindu peningglan kerajaan Singosari yang berada di Malang, Jawa Timur. Berbeda dengan candi pada umumnya, Candi Kidal tidak dibangun untuk pemujaan dewa semata. Tetapi pembangunan candi ini lebih kepada penghormatan terhadap raja Anusapati, raja kedua kerajaan Singosari. Sebab ada zaman raja Anusapati, Singosari sempat merengkuh kejayaan dan kemakmuran selama 20 tahun. Kekuasaannya berakahir setelah Anusapati dibunuh oleh Panji Tohjaya saat kudeta perebutan kerajaan Singosari.
Hal tersebut sering dikaitan dengan kutukan dari Mpu Gandring pada Anusapati. Bahwa tepat setelah puncak kejayaannya, Anusapati akan meninggal. Kutukan tersebut benar-benar terbukti dan menjadi legenda yang abadi. Candi ini dibangun sekitar 1248 masehi atau sudah berumur sekitar 768 tahun. Karena usianya yang sudah cukup tua, Candi Kidal dipugar untuk perawatan pada tahun 1990 yang lalu. Hingga saat ini belum dilakukan pemugaran lagi terhadap candi hindu di Indonesia ini.

8.      Candi Pringapus – Temanggung, Jawa Timur


Candi Pringapus terletak di desa Pringapus, kecamatan Ngadirejo, Temanggung, Jawa Tengah. Lokasinya cukup jauh dari pusat kota Temanggung, yakni 22 km ke arah barat. Candi ini termasuk candi beraliran hindu Siwaistik atau candi hindu yang digunakan untuk pemujaan terhadap Dewa Siwa saja. Ciri-ciri tersebut dapat dilihat dari beberapa bagian dari Candi Pringapus. Selain itu penyataan tersebut juga tertuang dalam isi prasasti yang ada di areal candi.
Sedangkan dari relief yang ada di dinding candi, ditemukan juga beberapa fakta tentang Candi Pringapus. Dimana candi hindu di Indonesia ini dibangun berdasarkan replika gunung Mahameru. Seperti yang kita ketahui, mahameru merupakan gunung yang dipercaya seperti tempat berdiam para Dewa. Tandanya merupakan adanya aksen hiasan antefik dan juga relief hapsara hapsari yang merupakan perwujudan dari manusia setengah dewa.

9.      Candi Cangkuang – Garut, Jawa Barat




Candi Cangkuang merupakan candi hindu pertama dan satu-satunya yang berada di tatar sunda. Candi ini berada tepat di daerah Kampung Pulo, Cangkuang, Leles, Garut, Jawa Barat. Persisnya di sebelah makam Mbah DalemArief Muhammad yang merupakan leluhur sekaligus sesepuh islam di dusun Kampung Pulo, desa Cangkuang. Cangkuang sendiri merupakan nama dari sebuah daun yang sering digunakan masyarakat sekitar. Biasanya digunakan untuk membuat tikar, tudung atau pembungkus.
Candi ini pertama kali ditemukan di tahun 1966-1968 oleh tim peneliti Harsoyo dan Uka Tjandrasasmita. Penelitian ini didasarkan pada tulisan Vorderman dalam buku Notulen Bataviaasch Genotschap yang terbit tahun 1893. Dari enelitian tersebut ditemukan adanya arca Siwa di bagian tengah reruntuhan candi. Itu artinya candi tersebut meruakan candi hindu dari sekte Siwaistik, atau pemuja Dewa Siwa. Saat digali, hanya terdapat sekitar 40% batuan candi asli, sehingga diutuskan untuk dilakukan pemugaran dan rekonstruksi candi.
Pemugaran terhadap candi dilakukan pada tahun 1974-1975. Setelah itu barulah dilakukan rekonstruksi yang dimulai pada tahun 1976, dimana rekonstruksi menggunakan 40% batu asli candi dan sisanya dilngkapi dengan semen, koral, pasir dan besi. Setelah direkonstruksi, bangunan Candi Cangkuang berdiri kokoh di atas pondasi seluas 4,5 x 4,5 meter dengan tinggi pondasi sekitar 30 cm. Menurut kesimpulan peneliti, Candi Cangkuang berdiri sejak abad 8 masehi pada masa Purnawarman dari Tarumanegara dan awal kerajaan Pajajaran.

10.  Candi Arca Gupolo – Sleman, Yogyakarta



Candi Arca Gupolo merupakan candi hindu yang terdiri dari kumpulan 7 buah arca. Arca-arca tersebut memiliki ciri yang sama dengan arca hindu kebanyakan. Salah satunya merupakan arca agastya yang berukuran 2 meter. Meski terlihat sudah rusak namun gambar trisulanya masih terlihat. Seperti yang sudah diketahui, trisula adalak ciri khas Dewa Siwa. Selain itu terdapat juga arca-arca dewa hindu yang dibuat dalam posisi duduk bersila.
Candi Arca Gupolo yang berada di kelurahan Sambirejo, kecamatan Prambanan, Yogyakarta ini memiliki sumur mata air jernih didekatnya. Sumur tersebut tidak pernah kering meski saat musim kemarau panjang. Sehingga airnya digunakan penduduk sekitar untuk memenuhi
kebutuhan sehari-hari. Ada sebuah kisah legenda yang menyebutkan bahwa nama Gupolo merupakan nama patih dari raja Ratu Boko. Ratu Boko (Candi Ratu Boko) sendiri merupakan ayah dari dewi Roro Jonggrang (Candi Prambanan). Jadi masih ada hubungan antara ketiga candi hindu tersebut.

11.  Candi Gunung Sari – Magelang, Jawa Tengah




Candi Gunung Sari merupakan candi hindu di indonesia yang beraliran Siwaistik. Jadi cand ini melakukan pemujaan terhadap dewa Siwa saja. Candi Gunung Sari sendiri berada di dataran tinggi, teatnya di Gunung Wukir, desa Gulon, kecamatan Salam, Magelang, Jawa Tengah. Selain candi tersebut, disana juga ditemukan prasasti Canggal yang isisnya bercerita tentang latarbelakang candi tersebut. Diantaranya merupakan usia candi tersebut yang jauh lebih tua dari Candi Gunung Wukir yang ada di dekatnya.

12.  Candi Gunung Wukir – Magelang, Jawa Tengah


Candi Gunung Wukir merupakan candi hindu yang masih berlokasi sama dengan Candi Gunung Sari. Candi ini memiliki usia lebih muda dari candi sari, namun kondisinya tidak begitu bagus. Banyak reruntuhan yang tidak terekonstruksi secara sempurna. Diperkirakan ada banyak bagian yang hilang dari Candi Gunung Wukir ini. Jika dilihat dari reruntuhannya, kompleks candi ini memiliki luas 50m x 50m. Berdasarkan jenis batuan yang digunakan, yakni batu andesit, maka perkiraan umur dari cand ini merupakan 732 tahun. Diantara reruntuhan tua tersebut ditemukan juga rasasti canggal, altar yoni, ptung lingga dan patung Andini (lembu betina).

13.  Candi Asu – Magelang, Jawa Tengah


Candi Asu merupakan candi hindu di indonesia yang juga berada di Magelang, tepatnya di kelurahan Sengi, kecamatan Dukun. Letak candi ini tidak jauh dari Candi Ngawen, yakni hanya sekitar 11 km ke arah utara. Sedangkan disekitar candi Asu juga terdapat candi hindu lainnya yakni Candi Pendem dan Candi Lumbung. Asal muasal nama Asu sendiri berasal dari penamaan warga sekitar terhadap salah satu patung yang berada di candi tersebut. Karena bentuknya sekilas seperti anjing maka dinamakan asu. Padahal itu merupakan patung Anandi yang merupakan lembu betina tunggangan Dewa Siwa.
Sedangkan untuk penamaan Candi Lumbung karena dahulu kala, candi tersebut dipercaya seperti lumbung atau tempat menyimpan padi. Sehingga candi tersebut dinamakan Candi Lumbung. Sedangkan untuk Candi Pendhem dilihat dari posisinya yang terbenam ke dalam tanah. Maka warga sekitar sepakat menamakannya Candi Pendhem. Ketiga candi tersebut menghada ke barat dengan masing-masing merupakan candi kecil. Letak dari candi tersebut merupakan di bagian tepi sungai Pabean, dekat lereng Merapi. Selain Candi Asu, di areal kompleks tersebut ditemukan juga dua prasasti, yakni prasasti Sri Manggala I dan Sri Manggala II.

14.  Candi Sambisari – Sleman, Yogyakarta



Candi sambisari termasuk candi hindu di Indonesia yang tergolong unik. Betuk dari candi yang berada di Purwomartani, Kalasan, Sleman, Yogyakarta ini berbentuk seperti puzzle. Dimana bagian dar bangunannya menyerupai balok-balok bagian batu yang tertimbun reruntuhan batu vulkanik akibat letusan gunung Merapi pada abad ke-11. Keberadaan candi ini diketahui pertama kali pada tahun 1966 oleh petani desa Sambisari. Letak dari batuan candi ini berada di kedalaman 6,5 meter dari permukaan tanah. Sehingga saat itu dilakukan penggalian untuk menemukan reruntuhan candi Sambisari.
Secara fisik, luas kompleks Candi Sambisari berukuran 50 m x 48 m. Pada bagian luar candi dikelilingi oleh tembok batu berderet membentuk bidang kotak. Kemudian di bagian tengahnya terdapat tiga candi perwara atau candi pendamping dan satu candi utama. Di bagian dinding batu tersebut terdapat beberapa relief berukirkan patung-patung bernuansa hidu. Di bagian utara ada patung Durga, di bagian selatan ada patung Agastya, di bagian timur ada patung Ganesha, sedangkan di bagian barat terdapat dua patung penjaga, yakni patung Mahakala dan Nandiswara. Dibagian candi utama terdapat lingga dan yoni yang berukuran cukup besar.

15.  Candi Jago – Malang, Jawa Timur


Candi Hindu di Indonesia - Candi Jago

Candi Jago merupakan candi hindu yang berada di Tumpang, Malang, Jawa Timur. Menurut penelitian, candi ini didirikan pada abad ke-13 masehi pada masa kerajaan Songosari. Bagian atap dari candi ini rusak sebagian, konon kerusakan tersebut diakibatkan oleh sambaran petir. Dalam dinding candi Jago terdapat dua cerita relief yang menjadi dasar pendirian candi, yakni relief Kunjakarna dan Pancatantra. Dimana kisah tersebut bercerita tentang kisah-kisah fabel, pencarian dewa dan juga pernikahan Arjuna dengan Dewi Suparba.
Selain relief-relief, dibagian tengah candi terdaapt prasasti Arca Manjusri. Dimana dalam isi prasasti tersebut diungkapkan tentang pembangunan candi tersebut. Mulanya candi ini didirikan oleh Raja Kertanegara untuk memberi penghormatan pada ayahnya Raja Wisnuwardana. Kemudian raja berikutnya, yakni Raja Adityawarman meneruskan pembangunannya dengan menambahkan Arca Manjusri di tengahnya. Di candi ini juga terdapat beberapa cerita tentang Budha, kemungkinan ini merupakan pengaruh dari agama budah yang merupakan agama baru yang menyebar ke Singosari.
Candi peninggalan agama Budha dapat diidentifikasi dari beberapa ciri yang membedakannya dengan candi Hindu. Ciri-ciri tersebut dapat kita lihat mulai dari adanya stupa pada puncak candi, terdapatnya arca Budha, adanya relief yang mengkisahkan ajaran Budha, dan bentuk bangunannya yang bertingkat.


 Candi Peninggalan Agama Budha

1.      Candi Borobudur Candi Borobudur merupakan candi peningalan agama Budha yang sudah tersohor seperti salah satu dari 7 keajaiban dunia. Candi ini terletak di Magelang, Jawa Tengah tepatnya berada 100 km arah Barat Daya kota Semarang atau 40 km arah Barat Laut kota Yogyakarta. Candi yang diperkirakan dibangun sekitar tahun 800-an Masehi pada masa wangsa Sailendra dari kerajaan Mataram ini berbentuk punden berundak dengan 9 tingkatan, dimana 6 tingkat bagian bawah berbentuk bujur sangkar, sedang 3 tingkat di atasnya berbentuk bundar.

2.      Candi Mendut Candi peninggalan agama Budha selanjutnya merupakan Candi Mendut. Candi ini terletak di Kecamatan Mungkid, Magelang-Jawa Tengah. Candi Mendut diperkirakan dibuat pada 824 Masehi, tepatnya pada masa pemerintahan Raja Indra di dinasti Syailendra. Arkeolog Belanda, J.G. de Carparislah yang menemukan jejak keberadaan candi ini pertama kali pada tahun 1908. Candi Peninggalan Agama Budha

3.      Candi Ngawen Candi Ngawen merupakan sebuah candi Budha yang terletak di desa Ngawen, Muntilan, Magelang. Berdasarkan perkiraan, candi Ngawen dibangun pada masa kekuasaan wangsa Syailendra atas Kerajaan Mataram Kuno. J.G. de Carparislah, seorang arkeolog Belanda meyakini jika candi Ngawen ini merupakan candi yang disebutkan dalam prasasti Karang Tengah seperti candi suci bernama veluvana. Candi Peninggalan Agama Budha

4.      Candi Lumbung Candi Lumbung terletak di kompleks Taman Wisata Candi Prambanan, tepatnya berada di sebelah candi Bubrah. Berdasarkan perkiraan, candi ini dibuat pada abad ke-9 Masehi di masa Kerajaan Mataram Kuno. Candi Lumbung merupakan kumpulan dari suatu kompleks candi utama bertema candi Buddha yang cukup banyak dikunjungi para wisatawan mancanegara. Candi Peninggalan Agama Budha

5.      Candi Banyunibo Candi Banyunibo merupakan candi peninggalan agama Budha yang berdiri kokoh tidak jauh dari kompleks Candi Ratu Boko. Candi yang diperkirakan dibangun pada abad ke 9 Masehi ini memiliki sebuah stupa di bagian atasnya yang merupakan ciri khas dari candi bercorak Budha. Candi Peninggalan Agama Budha

6.      Candi Muara Takus Candi Muara Takus merupakan satu-satunya candi peninggalan agama Budha yang berada di luar Jawa. Candi ini terletak di desa Muara Takus, Riau-Indonesia, tepatnya berada 134 km arah Barat kota Pekanbaru. Di dalam kompleks candi ini, terdapat pula bangunan Candi Bungsu, Candi Tua, dan Mahligai Stupa. Bahan utama pembuatan bangunan candi ini ternyata berbeda dengan candi-candi yang ada di Pulau Jawa. Ia terbuat dari bahan batu sungai, batu pasir, dan batu bata. Candi Peninggalan Agama Budha

7.      Candi Brahu Candi Brahu merupakan candi peninggalan agama Budha yang pada masa lampau digunakan seperti tempat pembakaran (krematorium) jenazah raja-raja Kerajaan Brawijaya. Dalam prasasti Alasantan, candi yang didirikan pada abad 10 Masehi ini disebut seperti bangunan suci umat Budha. Kendati demikian tak seperti candi-candi peninggalan agama Budha lainnya, candi ini tidak dilengkapi satu stupa-pun dalam bangunannya. Candi Peninggalan Agama Budha

8.      Candi Sewu

Candi Sewu merupakan candi Buddha yang berada di dalam kompleks candi Prambanan (hanya beberapa ratus meter dari candi utama Roro Jonggrang). Candi Sewu (seribu) ini diperkirakan dibangun pada saat kerajaan Mataram Kuno oleh raja Rakai Panangkaran (746 – 784). Candi Sewu merupakan komplek candi Buddha terbesar setelah candi Borobudur, sementara candi Roro Jonggrang merupakan candi bercorak Hindu.
Menurut legenda rakyat setempat, seluruh candi ini berjumlah 999 dan dibuat oleh seorang tokoh sakti bernama, Bandung Bondowoso hanya dalam waktu satu malam saja, seperti prasyarat untuk bisa memperistri dewi Roro Jonggrang. Namun keinginannya itu gagal karena pada saat fajar menyingsing, jumlahnya masih kurang satu.

9.      Candi Sumberawan

Candi Sumberawan hanya berupa sebuah stupa, berlokasi di Kecamatan Singosari, Malang. Dengan jarak sekitar 6 km dari Candi Singosari. Candi ini Merupakan peninggalan Kerajaan Singhasari dan digunakan oleh umat Buddha pada masa itu.
Candi Sumberawan terletak di desa Toyomarto, Kecamatan Singosari, Kabupaten Malang, +/- 6 Km, di sebelah Barat Laut Candi Singosari, candi ini dibuat dari batu andesit dengan ukuran P. 6,25m L. 6,25m T. 5,23m dibangun pada ketinggian 650 mDPL, di kaki bukit Gunung Arjuna. Pemandangan di sekitar candi ini sangat indah karena terletak di dekat sebuah telaga yang sangat bening airnya. Keadaan inilah yang memberi nama Candi Rawan. Ciri-cirinya:
Candi ini terdiri dari kaki dan badan yang berbentuk stupa. Pada batur candi yang tinggi terdapat selasar, kaki candi memiliki penampil pada keempat sisinya. Di atas kaki candi berdiri stupa yang terdiri atas lapik bujur sangkar, dan lapik berbentuk segi delapan dengan bantalan Padma, sedang bagian atas berbentuk genta (stupa) yang puncaknya telah hilang.